Penelitian ini mengkaji fenomena ketergantungan mahasiswa Perguruan Tinggi Umum (PTU) terhadap kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pembelajaran mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI), dengan fokus pada Politeknik Digital Boash Indonesia. Latar belakang penelitian ini berangkat dari maraknya penggunaan AI generatif seperti ChatGPT, Copilot, dan Gemini oleh mahasiswa Generasi Z yang terbiasa dengan akses informasi instan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur, observasi kelas, dan analisis dokumen tugas mahasiswa. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, & SaldaƱa (2014) dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80% mahasiswa menggunakan AI untuk pencarian informasi keislaman, peringkasan teks, serta penyusunan tugas dan presentasi. AI menawarkan peluang signifikan, seperti memperluas akses pembelajaran keislaman, membantu pemahaman istilah Arab, dan mendukung mahasiswa dengan keterbatasan bahasa asing. Namun, terdapat tantangan berupa rendahnya internalisasi konsep, potensi kesalahan pemahaman, plagiarisme spiritual, dan melemahnya kemampuan berpikir kritis. Dalam konteks ini, peran dosen PAI menjadi strategis sebagai kurator nilai dan fasilitator literasi etika digital, dengan mendorong verifikasi sumber, pembacaan literatur otoritatif, serta diskusi reflektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AI bukan pengganti dosen, tetapi dapat menjadi mitra strategis dalam pembelajaran PAI apabila digunakan secara etis, ilmiah, dan sejalan dengan nilai-nilai Islam. Rekomendasi penelitian meliputi penyusunan pedoman nasional pemanfaatan AI di pendidikan tinggi, pelatihan literasi AI bagi dosen, dan pengembangan kurikulum PAI yang terintegrasi dengan literasi digital keislaman.
Copyrights © 2025