Seksisme bermusuhan (hostile sexism) sebagai bentuk prasangka masih sering dialami oleh perempuan Tionghoa, yang dapat dipengaruhi atau muncul dari hal-hal sederhana seperti pikiran yang membenarkan penilaian moral dan reaksi emosional diri sendiri. Penelitian ini bertujuan mengkaji kontribusi dari keenam dimensi teori fondasi moral (care, equality, proportionality, loyalty, authority, dan purity) pada laki-laki dan perempuan dewasa awal terhadap seksisme bermusuhan dalam konteks budaya Tionghoa di Jakarta yang masih menerapkan nilai-nilai patriarki. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan desain kuantitatif melalui analisis regresi linear berganda. Sebanyak 231 partisipan dikumpulkan melalui purposive sampling dan snowball sampling dengan instrumen Moral Foundations Questionnaire-2 (MFQ-2) dan Ambivalent Sexism Inventory (ASI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa dimensi dari teori fondasi moral berkontribusi dalam memperkuat sikap seksis bermusuhan pada perempuan dewasa awal beretnis Tionghoa. Sebanyak 42,5 persen variasi seksisme bermusuhan pada partisipan laki-laki dan 38,8 pada partisipan perempuan dapat dijelaskan oleh fondasi moral seseorang, khususnya dalam konteks budaya kolektivis yang patriarkis. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya memperluas pemahaman mengenai seksisme dalam budaya kolektivis kepada masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi stigmatisasi terhadap perempuan Tionghoa sekaligus mengkritisi norma tradisional yang membatasi ruang gerak perempuan.
Copyrights © 2025