Globalisasi budaya melalui K-pop membawa pengaruh besar terhadap generasi muda Indonesia, termasuk komunitas dance cover Light Galaxy Semarang. Namun, di tengah dominasi budaya populer global, komunitas ini tetap mempertahankan penggunaan bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menganalisis sikap etnosentrisme positif dalam penggunaan bahasa daerah, serta bagaimana hal tersebut memperkuat identitas dan solidaritas kelompok. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi digunakan untuk menggali pengalaman subjektif anggota, baik yang berasal dari Jawa maupun luar Jawa. Data diperoleh melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan kerangka teori Etnosentrisme, Identitas Sosial, dan Komunikasi Antarbudaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Jawa berfungsi sebagai perekat identitas dan sarana diferensiasi, sementara istilah K-pop berperan sebagai simbol global yang menyatukan anggota lintas daerah. Pola komunikasi ini mencerminkan proses glokalisasi, di mana unsur global dan lokal hidup berdampingan secara dinamis. Penelitian ini menegaskan bahwa etnosentrisme positif mampu menjadi instrumen pelestarian bahasa daerah dalam komunitas kreatif modern.
Copyrights © 2025