Bedhaya Angron Akung merupakan tarian sakral dari Kadipaten Pakualaman yang diciptakan oleh PakuAlam II. Gaya tari Bedhaya Angron Akung merupakan perpaduan antara gaya Yogyakarta dan Surakarta,yang dikenal sebagai gaya Pura Pakualaman. Tarian ini mengisahkan pernikahan Raden Panji Inu Kertapatidengan Dewi Sekartaji. Penelitian ini bertujuan mengkaji bentuk serta makna dari tata rias, tatanan rambut,busana, dan aksesoris yang digunakan dalam tarian tersebut. Pendekatan deskriptif kualitatif melaluiwawancara dan observasi terhadap narasumber yang ahli di bidang tata rias dan seni tradisionalmenunjukkan bahwa setiap elemen tarian, seperti tata rias wajah Paes Ageng, tatanan rambut, busana, danaksesoris, memiliki makna filosofis yang mendalam, erat kaitannya dengan nilai-nilai spiritual dan budayaJawa. Penelitian ini menegaskan bahwa Tari Bedhaya Angron Akung tidak hanya sekadar pertunjukanestetis, tetapi juga berfungsi sebagai media penyampaian pesan moral, filosofi kehidupan, dan spiritualitasyang diwariskan dari generasi ke generasi.
Copyrights © 2024