Penelitian ini mengkaji perwujudan spiritualitas Roro Kidul dalam beragam bentuk tradisi, seni, dan bangunan di kalangan masyarakat Jawa. Mitos mengenai Roro Kidul tetap memegang peranan penting dalam kehidupan spiritual masyarakat, baik dalam konteks ritual adat, simbolisme budaya, maupun sinkretisme agama. Signifikansi penelitian ini terletak pada upaya untuk memahami bagaimana mitos dan kepercayaan lokal tetap terjaga di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang semakin cepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan spiritualitas Roro Kidul diekspresikan melalui tiga manifestasi utama: Labuhan sebagai ritual sakral, Tari Bedhaya Ketawang sebagai seni ritualistik, serta Kamar 308 di Hotel Inna Samudra Beach dan Altar Bunda Ratu di Vihara Kalyana Mitta sebagai simbolisme sakral dalam ruang fisik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang meliputi tinjauan literatur dan wawancara mendalam dengan tokoh budaya serta masyarakat setempat. Analisis dilakukan secara tematis dengan menerapkan kerangka teori Mircea Eliade, terutama konsep hierophany, Axis Mundi, dan dualitas antara yang sakral dan yang profan. Teori ini berfungsi sebagai alat analisis untuk memahami entitas mitos seperti Roro Kidul dapat menciptakan ruang dan waktu yang sakral dalam konteks budaya Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Labuhan, Tari Bedhaya Ketawang, dan kedua bangunan sakral tersebut merupakan manifestasi nyata dari integrasi antara mitos, kosmologi, dan spiritualitas Jawa. Melalui ketiga objek tersebut, masyarakat Jawa terus melestarikan tradisi yang tidak hanya menjaga hubungan dengan alam dan leluhur, tetapi juga mencerminkan harmoni antara dunia profan dan sakral, serta sinkretisme antara tradisi lokal dengan agama-agama besar seperti Buddha dan Islam.
Copyrights © 2025