Perawat yang bekerja di rumah sakit dan pernah merawat pasien Covid-19 masih menyisakan kecemasan. Kecemasan yang terjadi dapat mengakibatkan gangguan atau bisa juga menurunkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Penanganan kecemasan ini dapat diatasi dengan terapi komplementer bekam dimana mekanisme kerjanya meningkatkan hormon endorphin yang merupakan hormon kebahagiaan. Teknisnya dengan pengekopan pada permukaan kulit dan mengeluarkan hormone endorphin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh bekam terhadap intensitas kecemasan perawat pasca pandemi di Rumah Sakit Perkebunan Jember. Populasinya perawat yang dinas di ruang Catleya, IGD dan ICU. Desainnya Quasy Exsperiment dengan Teknik sampling stratified random sampling. Setiap ruang diambil perawat secara proporsional hingga mendapat jumlah 32 perawat (16 orang kelompok perlakuan dan dan 16 orang kelompok kontrol). Pada kelompok perlakuan diberikan terapi bekam sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan aktivitas apapun. Kelompok perlakuan dilakukan bekam 7 titik satu kali. Pengukuran kecemasan dilakukan 15 menit sebelum bekam dan 15 menit setelah bekam. Penelitian ini menunjukkan rerata intensitas cemas perawat sebelum diberi perlakuan bekam 18 ± 2,68 dan setelah perlakuan 11,9±2,26, Intensitas cemas perawat kelompok kontrol adalah 17,94±1,84 dan setelah pengukuran kedua 19,62±0,61. Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan t-test didapatkan p value 0,000 dengan nilai α < 0,05. Maknanya ada pengaruh terapi bekam terhadap kecemasan perawat pasca pandemi covid-19 di Rumah Sakit Perkebunan Jember. Ada pengaruh terapi bekam terhadap penurunan kecemasan perawat pasca pandemi di Rumah Sakit Perkebunan Jember. Hasil penelitian ini dapat sebagai bahan pertimbangan bahwa terapi bekam dapat dijadikan sebagai terapi komplementer pada kasus-kasus kecemasan pasca pandemic covid-19.
Copyrights © 2023