Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam dan subjektif pengalaman siswa dalam memaknai dan menginternalisasi nilai-nilai multikultural dan toleransi yang diajarkan dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di Sekolah Menengah Atas (SMA) N. 1 Rantau Selatan. Dalam konteks sekolah yang majemuk secara etnis, PPKn berfungsi sebagai medium formal untuk mempromosikan kohesi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Fenomenologi Interpretatif (Hermeneutik) untuk mengungkap esensi pengalaman hidup siswa. Partisipan penelitian melibatkan siswa dari berbagai latar belakang etnis (misalnya, Batak, Melayu, Jawa, dan Minang) yang aktif dalam diskusi PPKn. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam naratif, diskusi kelompok terfokus (FGD) yang membahas studi kasus PPKn, dan analisis artefak siswa (esai, jurnal refleksi). Analisis data dilakukan melalui proses reduksi fenomenologis dan perumusan struktur esensial pengalaman. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga domain pengalaman: (1) Pemahaman Kognitif (memahami Pancasila sebagai dasar hukum); (2) Diskonfirmasi Emosional (perbedaan antara teori kelas dan praktik sehari-hari di luar sekolah); dan (3) Internalisasi Pragmatis (toleransi sebagai survival skill dalam pergaulan yang majemuk). Ditemukan bahwa metode diskusi studi kasus dalam PPKn efektif dalam menciptakan safe space untuk membahas isu sensitif. Disimpulkan bahwa PPKn berhasil membentuk toleransi sebagai norma perilaku rasional yang penting untuk harmoni, meskipun tantangan terletak pada penjangkauan ranah afektif dan mengatasi diskonfirmasi dari lingkungan eksternal.
Copyrights © 2025