Kurikulum Pendidikan Agama Islam saat ini masih banyak berfokus pada hafalan dan penguasaan materi normatif tanpa memberikan ruang yang cukup untuk pengembangan kecerdasan kognitif peserta didik. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran kurang efektif dalam membentuk kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan library research atau studi kepustakaan. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari berbagai artikel jurnal ilmiah, buku akademik, dan laporan hasil penelitian yang telah dipublikasikan secara nasional maupun internasional. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa: 1). Bentuk dan Karakteristik Kurikulum Pendidikan Agama Islam untuk Pengembangan Kecerdasan Kognitif Peserta Didik adalah bahwa kurikulum PAI saat ini masih dominan bersifat normatif, berpusat pada hafalan, dan kurang menstimulasi kemampuan berpikir kritis dan analitis. Karakteristik ini menghambat optimalisasi pengembangan kecerdasan kognitif peserta didik dalam memahami nilai-nilai agama secara rasional dan aplikatif. 2). Konsep Kecerdasan Kognitif dan Pendekatan Neuropsikologis dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah bahwa kecerdasan kognitif meliputi kemampuan berpikir logis, menganalisis, dan menyelesaikan masalah. Pendekatan neuropsikologis mendukung pembelajaran dengan memahami cara kerja otak, sehingga dapat menciptakan strategi pembelajaran agama yang aktif, reflektif, dan sesuai dengan perkembangan kognitif siswa. 3). Model Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan Agama Islam yang Berbasis Kecerdasan Kognitif dengan Pendekatan Neuropsikologis adalah bahwa model rekonstruksi kurikulum PAI perlu mengintegrasikan kecerdasan kognitif dan prinsip neuropsikologi dalam seluruh komponennya. Kurikulum diarahkan untuk membentuk pola pikir kritis, materi yang kontekstual, serta metode dan evaluasi yang mendukung perkembangan otak dan pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai Islam.
Copyrights © 2024