Ruas jalan Waiselan–Latu merupakan jalan penghubung antara Desa Waiselan dan Desa Latu, dengan panjang total mencapai 43 km. Jalan ini berperan penting sebagai jalur utama transportasi dan distribusi ekonomi masyarakat setempat. Namun, kondisi jalan saat ini mengalami berbagai jenis kerusakan, seperti lubang, retak kulit buaya, pelepasan butir, dan amblas. Tingginya tingkat penggunaan jalan tidak sebanding dengan pertumbuhan dan peningkatan kualitas jalan, sehingga menyebabkan beban berlebih yang mempercepat kerusakan. Penelitian ini menggunakan metode Bina Marga, yang meliputi prosedur perencanaan umum dan penyusunan program pekerjaan berat (rehabilitasi dan peningkatan) maupun pekerjaan ringan (pemeliharaan rutin) untuk jalan kabupaten yang diklasifikasikan sebagai jalan lokal. Hasil analisis kondisi jalan pada STA 11+295 – 14+295 dibagi menjadi tiga segmen. Segmen 1 (STA 11+300–11+700) memiliki enam jenis kerusakan, segmen 2 (STA 12+300–12+900) delapan jenis kerusakan, dan segmen 3 (STA 13+100–13+400) empat jenis kerusakan. Tingkat kerusakan segmen 1 dan 2 memperoleh nilai kondisi 2, yang menandakan perlunya program peningkatan. Sementara itu, segmen 3 memperoleh nilai kondisi 7, yang hanya memerlukan pemeliharaan rutin.
Copyrights © 2025