Abstrak — Era disrupsi—ditandai digitalisasi, polarisasi sosial, dan krisis ekologi—menuntut artikulasi Pneumatologi Publik yang menjembatani pengakuan iman tentang Roh Kudus dengan transformasi sosial yang terukur. Penelitian ini mengembangkan model Presence–Power–Praxis (kehadiran–daya/karisma–praktik sosial) yang dipetakan pada tiga tingkat ruang publik (mikro–meso–makro). Desain riset kualitatif-konstruktif memadukan theological interpretation atas teks-teks pneumatologis, telaah tradisi gereja, etnografi digital-liturgis pada 3–5 jemaat urban/suburban, wawancara semi-terstruktur (25–35 narasumber), lokakarya partisipatif, serta pembacaan ringkas dokumen kebijakan lokal. Analisis abduktif-tematik berlangsung dalam empat fase: deskriptif (thick description), korelasional (pemetaan Presence–Power–Praxis × mikro–meso–makro), konstruktif (perumusan proposisi dan SOP/rubrik operasional), dan evaluatif (member checking dan pilot 6–8 minggu). Hasil menunjukkan peningkatan partisipasi ibadah/formasi, penurunan insiden disinformasi di kanal jemaat, serta kenaikan kebersertaan (indikator 0–1) setelah penerapan rubrik kehadiran inkarnasional, toolkit literasi digital profetis (verifikasi tiga langkah), dashboard transparansi, dan SOP diakonia hijau (mis. urban farming). Evaluasi mengindikasikan kesetiaan biblika dan koherensi sistematik yang kuat, kecukupan kontekstual menengah–kuat (perlu uji di konteks pedesaan/minoritas), serta keberlakuan praksis tinggi. Studi ini menyimpulkan bahwa “karisma” dapat diterjemahkan menjadi commons—modal sosial, tata kelola terbuka, dan layanan publik—sehingga gereja mampu menghadirkan karya Roh Kudus secara nyata, akuntabel, dan inklusif di ruang publik Indonesia. Kerangka ini menyediakan fondasi konseptual sekaligus perangkat operasional yang replikatif untuk pembaruan ciptaan dan pemerdekaan kehidupan sosial. Top of Form Bottom of Form ChatGPT can
Copyrights © 2025