Latar Belakang: Adenoidektomi adalah salah satu prosedur paling tua dan merupakan prosedur yang paling sering dilakukan pada prosedur pembedahan THT yang sering dilakukan pada anak-anak yang mengalami hipertofi adenoid. Adenoidektomi dengan kuretase telah dilakukan secara konvensional selama bertahun-tahun, dan belakangan ini adenoidektomi dengan endoskopik telah ada sebagai metode pembedahan yang inovatif, dengan masing-masing teknik memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri. Tujuan: Melaporkan satu kasus yang menggambarkan keadaan hipertrofi adenoid residu dan tatalaksana yang ideal untuk menangani hipertofi adenoid. Laporan Kasus: Seorang anak perempuan berusia 12 tahun datang ke Poliklinik THT-KL RSUD Dr. Saiful Anwar Malang dengan keluhan tidur mendengkur dan terlihat bernafas dari mulut pada saat tidur terkadang disertai bangun gelagapan sejak 1 bulan yang lalu. Oleh bagian THT pasien telah menjalani operasi adenotonsilektomi sebanyak 1 kali, dan telah dievaluasi menggunakan nasoendoskopi dan pada nasofaring D/S didapatkan adenoid hipertrofi Parikh IV dengan mukosa mengeluarkan sekret seromukoid dan pasien direncanakan adenoidektomi dengan menggunakan metode koblasi atau elektrokauter suction. Metode: Telaah literatur berbasis bukti mengenai hipertrofi adenoid residu dan tatalaksana pembedahan yang ideal melalui Google Scholar dan Proquest. Hasil: Hipertrofi adenoid residu dapat terjadi akibat adenoidektomi dengan kuretase tidak dapat mencapai atap dari nasofaring dan dinding lateral nasofaring. Kesimpulan: Adenoidektomi dengan bantuan endoskopik dapat menjadi metode yang aman dan tepat untuk pengambilan jaringan adenoid secara penuh dibandingkan dengan metode kuretase konvensional.
Copyrights © 2024