Salah satu penyumbang terbesar pemanasan global disebabkan oleh konsumsi energi pada bangunan, khususnya untuk pencahayaan, pemanasan, dan pendinginan. Arsitektur tropis yang dirancang untuk beradaptasi dengan iklim tropis, menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan energi berlebih dan dampak lingkungan dari bangunan. Saat ini banyak dijumpai desain bangunan modern, yang sering menggunakan material dan teknologi asing sehingga tidak sesuai dengan iklim tropis. Penelitian ini mengevaluasi dua desain bangunan kantor di ibukota Nusantara dan Maros yang dirancang dengan pendekatan arsitektur tropis. Analisis dilakukan dengan menggunakan Metode kualitatif yang digunakan untuk mengevaluasi hasil rancangan terhadap kriteria bangunan tropis yang bersumber dari buku dan jurnal. Pada penelitian ini juga dilakukan simulasi dengan software lightstanza dan climate consultant pada setiap desain bangunan. Setelah itu setiap desain dievaluasi berdasarkan kriteria bangunan tropis. Dari evaluasi tersebut diperoleh hasil bahwa desain kantor di Maros dinilai lebih memenuhi kriteria sebagai bangunan tropis dibandingkan dengan desain kantor di Ibu Kota Nusantara
Copyrights © 2025