Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
Vol 4 No 2 (2016)

ISLAMISASI SUKU BAJO DI BIMA

Rahmat dan Kurais Usman Rahmat dan Kurais Usman (uin)



Article Info

Publish Date
16 Dec 2016

Abstract

Sebelum Islam, Suku Bajo berperan sebagai pasukan laut Kerajaan Sriwijaya abad ke-7 sampai abad ke-13. Kapal-kapal yang melintas di perairan laut Kerajaan dipaksa singgah untuk membayar pajak. Singkatnya, kebesaran maritim Kerajaan ini tidak lepas dari kontribusi Suku Bajo. Kondisi sosial ekonomi, tersebarnya Suku Bajo di pulau-pulau Nusantara tidak terlepas dari pada perkembangan perdagangan hasil laut seperti ikan Teripang dan lain-lain, yang dikenal sebagai makanan lezat orang Cina. Kondisi sosial masyarakat, Suku Bajo sebelum menerima Islam memiliki kehidupan yang sangat heterogen, yakni hidup berkelompok dan dikepalai oleh seseorang yang kharismatik, atau biasa disebut Punggawa atau Pemimpin. Kondisi sosial budaya dan  Agama, dalam sejarah kehidupan Suku Bajo pada masa lampau selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sehinga tidak heran jika Suku Bajo ditemukan hampir di semua Negara yang memiliki pesisir pantai. Meskipun demikian Suku Bajo tetap mempertahankan kebudayaan atau tradisi yang ada, salah satunya adalah tradisi atau budaya Duata. Proses penerimaan dan pengembangan Islam. Kedatangan Islam di Suku Bajo, merupakan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Suku Bajo. Antara islamisasi Suku Bajo dengan islamisasi di Nusantara tidak dapat dipisahkan, karena melalui jalur perdaganganlah Islam masuk di Nusantara, dan Suku Bajo merupakan bagian dari masyarakat Nusantara, sebagai Suku pengembara Laut. 

Copyrights © 2016