Realitas masalah bunuh diri dari tahun ke tahun dan hari ke hari selalu menjadi perbincangan yang hangat baik itu dalam konteks dunia, Indonesia dan secara khusus daerah seperti NTT. Perbincangan mengenai masalah bunuh diri ini kemudian memunculkan berbagai pandangan dan komentar yang beragam hingga sampai pada titik bunuh diri adalah tindakan kehendak bebas. Melihat perdebatan yang terjadi tanpa henti, penulis melihat tindakan bunuh diri dari perspektif teori Emile Durkheim tentang empat tipe bunuh diri yang ia rumuskan dan juga perspektif bunuh diri pada abad pertama. Upaya yang dilakukan penulis adalah untuk memberi pemahaman bahwa bunuh diri terjadi akibat berbagai faktor yang mempengaruhi seperti maksud Durkheim. Pendekatan yang penulis gunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan kualitatfi deskriptif berupan studi pustaka dan wawancara. Tujuan penelitian bermaksud menunjukan kepada pembaca dan gereja bahwa masalah bunuh diri terjadi karena ada berbagai faktor yang mempengaruhi. Hasil dari semua ini kemudian bisa membawa kita pada sebuah kesadaran akan masalah ini kemudian tindak membawa stigma negatif yang akan lebih memperkeruh suasana ini untuk tambah parah. Dua konsep antara empat tipe teori bunuh diri dari Durkheim dan perspektif bunuh diri abad pertama didialogkan dengan sebuah harapan bahwa pembaca, masayarakat, pemerintah dan secara khusus gereja bisa melihat kembali sitgma awal mereka dalam melihat masalah bunuh diri dan menolong mereka untuk sama-sama saling merangkul dalam menyelesaikan masalah yang terjadi.
Copyrights © 2025