Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena krisis kesantunan berbahasa di kalangan remaja yang semakin marak terjadi baik dalam interaksi langsung maupun di media sosial. Bahasa sebagai alat komunikasi seharusnya digunakan dengan memperhatikan norma kesopanan dan etika berbahasa agar tercipta hubungan sosial yang harmonis. Namun, perkembangan teknologi dan pengaruh budaya populer telah memicu perubahan pola komunikasi remaja yang cenderung bebas dan kurang memperhatikan nilai kesantunan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi, serta simak dan catat. Data diperoleh dari ujaran-ujaran remaja yang mengandung pelanggaran terhadap prinsip kesantunan berbahasa, khususnya maksim kebijaksanaan, penghargaan, dan kesimpatian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis kesantunan berbahasa di kalangan remaja disebabkan oleh faktor internal seperti emosi, pencarian jati diri, dan pengaruh teman sebaya, serta faktor eksternal seperti lingkungan sosial dan penggunaan media sosial yang berlebihan. Temuan ini menegaskan pentingnya pembinaan karakter berbahasa santun melalui pendidikan formal dan informal agar remaja mampu berkomunikasi secara sopan, beretika, dan beradab dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia digital.
Copyrights © 2025