Meskipun ilmu pengetahuan telah menghasilkan berbagai bukti yang kuat dalam berbagai bidang, masih banyak individu atau kelompok yang menolak temuan-temuan ilmiah dan lebih mempercayai teori konspirasi. Jurnal ini membahas bagaimana keyakinan semacam itu dapat terbentuk dan bertahan dalam masyarakat, dengan menggunakan pendekatan teori koherensi dalam epistemologi. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung mempercayai informasi yang sesuai atau selaras dengan keyakinan lain yang telah dimilikinya. Melalui studi pustaka dan analisis sederhana terhadap fenomena seperti penolakan terhadap perubahan iklim, vaksinasi, dan teori konspirasi lainnya, penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan terhadap suatu informasi sering kali lebih bergantung pada konsistensi internal dalam komunitas kepercayaan, daripada pada bukti ilmiah. Temuan ini menegaskan pentingnya memahami bagaimana sistem keyakinan terbentuk dan bagaimana hal itu mempengaruhi penerimaan terhadap sains.
Copyrights © 2025