Fenomena sosial masa kini memperlihatkan dominasi paham individualisme radikal yang menempatkan kebebasan sebagai hak mutlak tanpa tanggung jawab sosial. Prinsip yang kerap dihidupi generasi modern berbunyi: “selama saya tidak merugikan orang lain, saya bebas melakukan apa saja”. Pola pikir ini sejalan dengan harm principle yang dikemukakan John Stuart Mill, yang menjadikan kerugian orang lain sebagai satu-satunya batas moral dalam bertindak. Penelitian ini bertujuan menelaah fenomena moral minimalism yang berkembang dalam masyarakat Indonesia melalui lensa apologetika Kristen dengan menjadikan Galatia 5:13-15 sebagai dasar teologis untuk memahami hakikat kebebasan sejati. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan pendekatan kepustakaan dengan memanfaatkan sumber primer berupa Alkitab dan sumber sekunder dari literatur teologis, filosofis serta sosiologis yang relevan. Melalui analisis biblika dan refleksi apologetika, penelitian ini menelusuri bagaimana ajaran Paulus menantang pandangan etis modern yang hanya menuntut “tidak merugikan,” namun gagal melahirkan kasih.AbstrakContemporary society is increasingly shaped by a form of radical individualism that treats freedom as an absolute right detached from social responsibility. The prevailing moral attitude among modern generations can be summed up in the phrase, “as long as I do not harm others, I am free to do whatever I want.” This mindset echoes John Stuart Mill’s harm principle, which regards the avoidance of harm to others as the only moral boundary of human action.This study seeks to examine the phenomenon of moral minimalism in Indonesian society through the lens of Christian apologetics, focusing on Galatians 5:13-15 as a theological foundation for understanding the true nature of freedom. Employing a qualitative method and a library-based approach, the research draws upon primary sources from Scripture and secondary sources from theological, philosophical,and sociological literature. Through biblical and apologetic analysis, this study explores how Paul’s teaching challenges modern ethical reasoning that stops at the level of “not harming” yet fails to cultivate genuine love.
Copyrights © 2025