As a city formed from an agglomeration of urban villages, Jakarta requires a holistic urban management strategy. On the other hand, environmental issues related to global warming and the impact of the greenhouse effect are also challenges that must be faced. In response to these two problems, which are also felt by other regions in Indonesia, the Climate Village Program (Proklim) was introduced, a national-scale program managed by the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) to optimize community participation and other stakeholders in strengthening adaptive capacity to the effects of climate change. In 2025, the area of RT.001 to RT.009 RW.16 Tomang Village successfully entered the assessment of the Climate Village Program (Proklim) at the DKI Jakarta level. Based on initial discussions between Partners and the Untar Team, one of the Proklim assessment criteria is the need for regional collaboration with University partners. The problem faced by partners is the lack of green open space, so it is necessary to restore the village road shoulder area and alleys according to their ecological function, especially to support Proklim. Therefore, to support Proklim, particularly in the RT 001 to RT 009 RW 16 area of Tomang Village, the implementation team provided a solution for the procurement and arrangement of a Home Herbal Garden (Toga). The method used was participatory, where the proposing team acted as facilitators for partners. Partners became the main actors in developing Proklim's flagship program, particularly the management of the Toga Garden. This community service activity is a concrete form of Untar's participation in the surrounding community as well as an implementation of the impactful campus program. Keywords: Home Herbal Garden (Toga), Proklim, Urban Village, Community Empowerment Abstrak Sebagai kota yang terbentuk dari aglomerasi kampung kota, Jakarta memerlukan strategi pengelolaan kota yang holistik. Di sisi lain, masalah lingkungan yang berkaitan dengan pemanasan global dan dampak dari efek rumah kaca juga merupakan tantangan yang harus dihadapi. Sebagai respons terhadap kedua masalah ini yang juga dirasakan oleh daerah lain di Indonesia, diperkenalkan Program Kampung Iklim (Proklim) yang merupakan program berskala nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengoptimalkan partisipasi masyarakat serta pemangku kepentingan lainnya dalam menguatkan kapasitas adaptasi terhadap pengaruh perubahan iklim. Pada tahun 2025, wilayah RT.001 s/d RT.009 RW.16 Kelurahan Tomang berhasil masuk dalam penilaian Program Kampung lklim (Proklim) Tingkat DKI Jakarta. Berdasarkan diskusi awal Mitra dengan Tim Untar, salah satu kriteria penilaian Proklim adalah diperlukannya kerja sama wilayah dengan mitra Perguruan Tinggi. Permasalahan yang dimiliki oleh mitra yaitu masih kekurangan ruang terbuka hijau sehingga perlu mengembalikan area bahu jalan kampung dan gang sesuai fungsi ekologis terutama untuk menunjang Proklim. Oleh karena itu, untuk mendukung Proklim khususnya di wilayah RT 001 s/d RT 009 RW 16 Kelurahan Tomang, Tim pelaksana memberi solusi pengadaan dan penataan Taman Tanaman Obat Keluarga (Toga). Metode yang digunakan adalah partisipatif dimana tim pengusul menjadi fasilitator bagi mitra. Mitra menjadi pelaku utama dalam menyusun program unggulan Proklim, terutama tata kelola Taman Toga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan salah satu bentuk konkret dari peran serta Untar dalam komunitas di sekitarnya sekaligus sebagai implementasi program kampus berdampak.
Copyrights © 2025