Tuberkulosis paru (TBC paru) masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, terutama bila disertai diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) yang dapat menurunkan imunitas dan meningkatkan inflamasi sistemik. Rasio neutrofil-limfosit (NLR) merupakan indikator sederhana untuk menilai tingkat inflamasi, sedangkan derajat lesi radiografi toraks menggambarkan tingkat keparahan penyakit paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter luas derajat lesi dan hubungan antara derajat lesi radiografi toraks dengan nilai NLR pada pasien TBC paru dewasa disertai DM tipe 2 terkontrol di RSU Royal Prima Medan periode 2024. Desain penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada 32 pasien. Data diperoleh dari hasil pemeriksaan radiografi toraks, laboratorium, dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki derajat lesi Moderately Advanced (37,5%), dan kategori NLR terbanyak adalah intermediate inflammation (43,8%). Uji Chi-Square menghasilkan p = 0,960 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan signifikan antara derajat lesi radiografi toraks dan nilai NLR. Kesimpulannya, tingkat keparahan lesi paru tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat inflamasi sistemik pada pasien TBC paru dengan DM tipe 2 terkontrol. Disarankan pasien tetap menjaga kontrol glukosa darah, sementara fasilitas kesehatan memperkuat skrining TB-DM dan pemantauan biomarker inflamasi.
Copyrights © 2025