Indonesia masih menghadapi beban stunting yang tinggi, dengan prevalensi nasional sebesar 21,6% pada tahun 2022 (SSGI). Seribu hari pertama kehidupan merupakan periode kritis untuk pertumbuhan dan perkembangan. Berdasarkan hasil wawancara Petugas Promosi dan Kesehatan Puskesmas Lok Bahu Samarinda, menyampaikan bahwa di Kelurahan Lok Bahu, Samarinda, risiko gizi buruk dan stunting masih cukup tinggi pada tahun 2024 ditemukan 112 anak yang mengalami stunting. Hal ini disebabkan karena keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, partisipasi posyandu yang rendah, dan praktik pemberian makan bayi dan anak balita yang tidak konsisten. Untuk mengatasi hal ini, digagas program SIAGA-NILA (Sinergi Aksi Gizi Anak dengan Nila Bite) yang diperkenalkan oleh Tim Pengabdian masyarakat dari Universitas Mulawarman. Intervensi ini memanfaatkan ikan Nila (Oreochromis spp.) sebagai sumber protein yang diolah menjadi produk makanan fungsional, yaitu biskuit bergizi “Nila Bite”. Kelompok sasaran meliputi anak berusia 6–59 bulan, orang tua atau wali mereka, dan kader posyandu. Program ini dilaksanakan dalam lima tahap: survei lapangan, perencanaan, persiapan bahan, implementasi, dan evaluasi. Hasil pengabdian ini menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi orang tua sebesar 80%, penerimaan yang kuat terhadap biskuit Nila Bite di kalangan anak-anak, dan peningkatan keterampilan petugas posyandu dalam pemantauan pertumbuhan dan pendidikan. Keberlanjutan diperkuat melalui pembinaan petugas posyandu, pengembangan sistem dokumentasi, dan penyediaan media pendidikan. Kesimpulannya, program SIAGA-NILA menunjukkan efektivitas intervensi berbasis pangan lokal yang terintegrasi dengan layanan posyandu dan pemberdayaan masyarakat. Model ini sejalan dengan strategi pengurangan stunting Indonesia dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dengan potensi besar untuk direplikasi di daerah-daerah dengan prevalensi tinggi.
Copyrights © 2025