ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
1992: HARIAN BERNAS

PERLUKAH PGRI DIBUBARKAN?

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
30 Apr 2010

Abstract

       Akumulasi berbagai kritik tajam yang tertuju pada manajemen organisasi yang menghimpun para pahlawan tanpa tanda jasa di negara kita, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), akhirnya sampai pula pada top manajer organisasi tersebut. Baru-baru ini dalam rangkaian Konfernas ke-3 PGRI ada pernyataan yang cukup surprise, "kalau memang PGRI tidak bisa lagi menyalurkan aspirasi para guru maka organisasi ini dapat saja dibubarkan". Pernyataan ini tentu saja sangat menarik dan menggelitik, dan lebih menarik lagi karena yang menyatakan adalah orang nomer satu organisasi tersebut, Basjuni Suriamihardja.         Kritik terhadap PGRI selama ini memang cukup deras dan keras; ada yang menyatakan bahwa PGRI sebagai kurang aspiratif, lebih berpihak pada elite birokratis daripada anggotanya, lamban dan kurang profesional, dan lebih ba-nyak mengurusi hal-hal yang kurang fundamental (misalnya mengenai baju seragam, potongan gaji, dsb). Lebih dari itu bahkan ada yang mengritik PGRI sebagai alat politik daripada organisasi profesi.          Kritik yang beraneka ragam tersebut tentu bisa be nar dan bisa pula salah; namun begitu dalam kenyataannya memang terdapat banyak pihak yang kurang puas terhadap jalannya roda organisasi yang menghimpun anggota sekitar 1,3 juta orang tersebut. Kekurangpuasan ini terkadang me lahirkan sinisme-sinisme yang kurang konstruktif, misal-nya mengepanjangkan PGRI sebagai "Pemotong Gaji Republik Indonesia" (karena PGRI juga sering memotong gaji anggo-tanya), "Penyalur Gula dan Roti Istimewa" (karena banyak hal sepele yang dikerjakan PGRI), dan sebagainya.

Copyrights © 1992