Pertemuan selama enam hari yang menyenangkan dan sekaligus melelahkan baru saja berakhir. Itulah Kongres XVII Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang baru saja ditutup di Jakarta. Pertemuan yang dibuka langsung oleh Presiden Soeharto tersebut sempat membuat "terpana" banyak orang; pasalnya dalam kongres tersebut pengurus organisasi profesi ini mampu mendatangkan sekitar 11.000 anggota serta undangan, termasuk tamu dari negara-negara manca di kawasan ASEAN dan pengamat dari organisasi guru tingkat internasional.        Sebenarnyalah bahwa PGRI itu besar, setidak-tidak nya secara kuantitas apabila dilihat dari segi banyaknya anggota yang tergabung di dalamnya. Besarnya PGRI sudah barang tentu tidak bisa dilepaskan dari besarnya jumlah guru di tanah air ini yang secara tidak otomatis menjadi anggota (aktif) PGRI.        Barangkali kita dapat berhitung dengan angka: ka-lau kita misalnya melihat angka statistik tentang jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang jumlahnya hampir menca-pai empat juta orang itu ternyata 1,8 juta, atau hampir separoh, di antaranya adalah guru. Jumlah ini belum ter-masuk para guru nonPNS. Pada kenyataannya di negara kita ini sangat banyak "pahlawan tanpa tanda jasa" yang tidak (mau) atau belum berstatus PNS; terutama para guru tetap yayasan pada sekolah-sekolah nonpemerintah alias swasta. Karena jumlah guru banyak maka wajarlah kalau organisasi profesinya, PGRI, juga besar dalam hal jumlah anggota.
Copyrights © 1994