Barangkali tidak ada yang tidak sependapat untuk menyatakan bahwa sekarang tengah terjadi semacam pergeseran persepsi terhadap profesi guru secara evolutif; perlahan-lahan tetapi pasti. Terjadinya pergeseran persepsi ini dikarenakan adanya hubungan yang timbal balik (resiprocal) di antara persepsi itu sendiri di satu pihak dengan perilaku guru di masyarakat pada pihak yang lain.        Profesi guru, yang tempo dulu pernah didudukkan pada strata singgasana oleh masyarakat, sekarang ini nampaknya sudah tidak lagi. Tempo dulu para guru sepertinya bukan menjadi kelompok biasa di dalam masyarakat, dalam konotasi yang positif, sebab memiliki status sosial yang benar-benar terhormat. Di berbagai tempat guru dianggap sebagai "sesepuh" (nonformal leader), tempat mana masyarakat kita mempercayakan sebagai tumpahan berbagai persoalan sosial untuk mencari solusinya. Kalau masyarakat akan memutuskan kapan jalan desa dan bendungan akan dibangun maka guru lah yang pertama kali diminta sarannya, kalau masyarakat ingin bergotong royong maka guru pula yang menjadi "komandan"nya, bila ada anggota masyarakat ingin punya hajat maka guru pula tempat bertanya segala sesuatunya, bahkan kalau ada orang tua ingin memilih calon menantu pun tidak jarang guru diminta petunjuknya.        Itulah gambaran guru tempo dulu, yang barangkali sekarang ini tinggal menjadi kenangan manis. Apakah sekarang ini gambaran guru tersebut telah mengalami transformasi? Barangkali memang begitulah adanya! Meski guru tetap saja menjadi "pahlawan tanpa tanda jasa", sebuah penghargaan yang tak ternilai harganya secara material, tetapi persepsi masyarakat terhadapnya tidak lagi sekonstruktif dulu; meskipun juga jangan diinterpretasi sebagai persepsi destruktif.
Copyrights © 1994