Mahasiswa seringkali menghadapi tekanan dalam mencapai prestasi akademik yang baik, hal ini seharusnya membuat mereka merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri dan berdampak positif. Namun, bagi sebagian mahasiswa, prestasi tersebut menimbulkan perasaan tidak layak dan keraguan atas kemampuan mereka. Fenomena ini dikenal sebagai impostor phenomenon, yaitu suatu kondisi psikologis di mana individu meyakini bahwa keberhasilan yang mereka capai disebabkan oleh keberuntungan semata, bukan karena kompetensi atau kemampuan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara impostor phenomenon dengan self-esteem pada mahasiswa. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional untuk menganalisis hubungan antara kedua variabel tersebut. Sebanyak 275 mahasiswa berusia 18-25 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) yang dikembangkan oleh Clance (1985) yang terdiri dari 20 item, dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) oleh Rosenberg (1979) yang terdiri dari 10 item. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif antara impostor phenomenon dengan self-esteem. Uji korelasi Spearman menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.001 (p < 0.05) dengan koefisien korelasi (r) sebesar -.485, yang menunjukkan ketika impostor phenomenon meningkat, maka self-esteem akan mengalami penurunan, sebaliknya ketika impostor phenomenon menurun, maka self-esteem akan meningkat. Studi ini menunjukkan pentingnya mahasiswa dalam memahami dan mengenali impostor phenomenon dalam diri mereka.
Copyrights © 2024