Hilangnya satu generasi bangsa Indonesia, one generation lost, sekarang ini menjadi kalimat yang mengerikan bagi bangsa Indonesia. Ada berbagai macam interpretasi terhadap "kalimat petaka" ini, ada yang sekedar menganggap sebagai suatu peringatan kepada kita semua supaya lebih serius memperbaiki diri, ada yang menganggap sebagai ancaman bangsa pada masa kini dan masa depan, dan ada pula yang mempercayai hal itu sebagai hukuman kepada bangsa Indonesia yang kurang bersyukur atas anugerah yang diberikan dari-Nya.      Apapun interpretasi terhadap kalimat tersebut kiranya kita semua sepakat bahwa kita benar-benar dapat kehilangan satu generasi bangsa bila dari sekarang tidak melakukan antisipasi terhadap segala kemung-kinan yang bisa terjadi. Bukan tak mungkin seperempat abad ke depan kita akan dihujat oleh anak cucu karena tidak mampu menghantarkan mereka sebagai bangsa yang tangguh dan mandiri.      Krisis ekonomi yang berkepanjangan akibat terjadinya salah urus (mismanagement) di negara kita telah membuka pintu kemungkinan hilangnya ketangguhan daya saing satu generasi bangsa. Disadari atau tidak, dan diakui atau tidak, krisis ekonomi yang masih berlangsung hingga sekarang memang membawa berbagai efek samping sekaligus, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik di bidang ekonomi itu sendiri maupun di bidang lain, baik secara fisik maupun nonfisik, dan baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Berbagai efek samping ini secara simultan mengendala perjalanan bangsa Indonesia menuju titik kemajuan hidup.      Kapan krisis ekonomi kita akan berakhir. Kenapa Thailand yang diterpa krisis dalam waktu yang hampir bersamaan dengan Indonesia sudah mulai pulih sedangkan kita masih belum "beranjak"? Benarkah satu generasi bangsa Indonesia yang terancam ketangguhan daya saing tersebut masih dapat diselamatkan dari kehancuran?
Copyrights © 1999