Artikel ini membahas peran penting Sanggar Puti Bungo Awan di Nagari Situmbuk sebagai wadah pelestarian seni dan budaya lokal Minangkabau di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap tradisi. Berdiri sejak tahun 1991 dan diaktifkan kembali pada tahun 2006, sanggar ini menjadi media alternatif untuk mencegah kenakalan remaja serta menghidupkan seni tari dan musik tradisional. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, artikel ini mengungkap strategi sanggar dalam menarik partisipasi generasi muda, di antaranya dengan pelatihan seni, keterlibatan dalam acara adat, dan pemanfaatan media digital. Kendala yang dihadapi mencakup keterbatasan dana, kurangnya regenerasi kepengurusan, dan lemahnya dukungan dari pihak luar. Namun demikian, berbagai prestasi yang diraih menunjukkan bahwa sanggar tetap memiliki dampak positif terhadap peningkatan kesadaran budaya generasi muda serta menjadi simbol perlawanan terhadap lunturnya nilai-nilai tradisional di era modern.
Copyrights © 2025