Di dalam pidato atau sambutan akhir tahunnya Presiden Soeharto telah mencanangkan tahun 1998 sebagai Tahun Seni dan Budaya. Ada dua hal yang diharapkan dari pencanangan ini. Pertama, dengan mem-perbanyak aktivitas seni dan budaya oleh masyarakat kita maka jati diri bangsa Indonesia akan lebih mantap dan terkokohkan; dan kedua, dengan semakin banyaknya aktivitas seni dan budaya oleh masyarakat diharapkan turis asing pun semakin banyak yang tersedot oleh mesin pariwisata Indonesia sehingga hal ini secara otomatis akan meningkatkan devisa negara kita.      "Sambil menyelam minum air"; itulah pepatah klasik yang masih berlaku pada kita. Di tengah-tengah terjadinya berbagai kasus asosial dan degradasi moral yang melanda sebagian masyarakat kita maka perlu dilakukan langkah-langkah untuk memperkokoh jati diri bangsa kita; dan media yang dipilih adalah seni dan budaya.       Tepatlah kiranya pilihan kita itu karena melalui aktivitas seni dan budaya maka kreativitas masyarakat dapat disalurkan secara konstruktif. Kita "menyelam" dalam hal ini. Pada sisi lain dengan penyaluran kreativitas yang konstruktif melalui aktivitas seni dan budaya tersebut kalau dapat kita kemas secara profesional akan mendatangkan devisa negara yang bukan tidak mungkin sampai pada taraf yang "aduhai" nilainya. Disinilah kita "minum airnya".      Banyak negara telah membuktikan bahwa penyaluran kreativitas masyarakat secara konstruktif melalui aktivitas seni dan budaya dapat mendatangkan keberuntungan bagi negara yang bersangkutan. Dalam hal ini kita dapat menyebut Jepang, Korea Selatan dan Thailand untuk negara-negara di kawasan Timur; sedangkan untuk kawasan Barat kita dapat menyebut Spanyol, Perancis dan Yunani. Jamaica, Meksiko dan Brazilia ada di kawasan yang lain lagi. Di negara-negara tersebut seni dan budaya mendatangkan devisa yang nilainya sangat berarti.
Copyrights © 1998