ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT

KRISIS PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
15 May 2010

Abstract

       Ketika oleh Bank Dunia diminta untuk membahas draft akhir laporan yang mengambil judul "Education in Indonesia : From Crisis to Recovery" di akhir tahun 1999 yang lalu (saat itu belum menjadi buku) secara berkelakar saya menyatakan apakah sebaiknya judul naskah laporan itu diganti menjadi  "Education in Indonesia : From Crisis to Crisis". Pasalnya, argumentasi saya saat itu, kalau semua berlaku jujur  sebenarnya pendidikan nasional Indonesia  masih ada dalam keadaan krisis; belum pulih dan belum mampu bangkit seperti yang diharapkan banyak orang.       Kelakar saya tersebut  ternyata memang  merupakan realitas yang tidak bisa dipungkiri,  bukan saja berlaku pada saat itu akan tetapi sampai sekarang pun hal itu masih terjadi. Pendidikan nasio-nal kita sampai sekarang belum pulih  dari "cedera akademis" yang dialaminya, di samping juga belum mampu bangkit seperti keadaan sediakala.       Kebelumpulihan tersebut nampaknya akan berlangsung terus setidak-tidaknya sampai akhir tahun 2000 ini.  Di sisi yang lainnya ketidakmampuan bangkit tersebut  akan berlangsung sampai tahun depan. Mengapa? Sebab kita tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli obat,  untuk merealisasi program, untuk menjalankan kegi-atan dan untuk melaksanakan proyek-proyek pendidikan di dalam skala yang wajar. Dana pendidikan yang dialokasi dari RAPBN 2000 ternyata  sangat kecil dan hampir tidak berarti kalau dibandingkan dengan aktivitas untuk melakukan pemulihan.       Dari total belanja negara dalam RAPBN 2000  yang jumlahnya mencapai 183.069,2 miliar rupiah ternyata sektor pendidikan nasional hanya mendapatkan jatah sebesar  4.257,0 miliar rupiah. Secara statistik sektor pendidikan nasional  hanya memperoleh alokasi dana sebesar 2,32 persen dari RAPBN.

Copyrights © 2000