Mangokal Holi merupakan salah satu praktik adat yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Tradisi ini dilaksanakan dengan membongkar makam leluhur dan memindahkan tulang-belulang ke dalam tugu keluarga sebagai bentuk penghormatan terhadap nenek moyang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Mangokal Holi sebagai praktik sosial dan ekspresi iman dengan menggunakan pendekatan teologi kontekstual, khususnya konsep teologi tanpa tinta dari Izak Lattu, serta teori tindakan sosial dari Max Weber. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka untuk menggali makna spiritual, nilai budaya, serta peran sosial dari tradisi ini dalam konteks masyarakat Batak Toba. Hasil kajian menunjukkan bahwa Mangokal Holi tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga menjadi medium untuk memperkuat identitas kultural, solidaritas antar anggota marga, serta pewarisan nilai-nilai leluhur kepada generasi muda. Selain itu, tradisi ini mencerminkan bentuk spiritualitas kontekstual di mana iman Kristen tidak bertentangan, tetapi justru dihayati melalui praktik budaya lokal. Dalam konteks ini, Mangokal Holi menjadi bentuk “teologi tanpa tinta” yang hidup melalui narasi, simbol, dan ritus masyarakat. Tradisi ini membuktikan bahwa adat dan iman dapat saling menyatu dalam pengalaman keberimanan yang kontekstual dan bermakna.
Copyrights © 2025