Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas sayuran penting di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi dengan tingkat konsumsi yang besar, baik dalam bentuk segar maupun olahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interaksi antara pemberian kapur dan pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit di lahan gambut, menentukan dosis kapur terbaik, serta dosis pupuk kalium yang optimal. Penelitian dilaksanakan di Desa Rasau Jaya Satu, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada Januari"“Mei 2025 menggunakan rancangan petak terbagi (split plot). Faktor utama adalah dosis kapur dolomit, terdiri atas: k1 = 2,16 kg/bedengan (10,8 ton/ha; pH 5,64), k2 = 3,47 kg/bedengan (17,3 ton/ha; pH 6,36), dan k3 = 4,79 kg/bedengan (23,9 ton/ha; pH 6,34). Anak petak berupa dosis pupuk KCl, yaitu: p1 = 120 kg/ha (2,7 g/tanaman), p2 = 240 kg/ha (5,4 g/tanaman), dan p3 = 360 kg/ha (8,2 g/tanaman). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara kapur dan pupuk kalium terhadap variabel pertumbuhan dan hasil cabai rawit, serta dosis kapur tidak berpengaruh nyata terhadap variabel yang diamati. Meskipun demikian, dosis kapur terendah efektif meningkatkan pH tanah gambut. Pupuk kalium dengan dosis 360 kg/ha memberikan hasil terbaik pada variabel volume akar dan berat kering tanaman.
Copyrights © 2025