Periode remaja merupakan fase sensitif yang sering kali diwarnai oleh stres akibat perubahan fisik, hormonal, sosial, dan psikologis. Stres ini sering dipicu oleh tekanan akademis, ekspektasi orang tua, dan hubungan dengan teman sebaya, yang dapat berdampak pada penurunan subjective well-being dan meningkatkan risiko kecemasan serta depresi. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan subjective well-being adalah dengan bersyukur, karena kebersyukuran mencerminkan tingkat kesejahteraan individu. Kebersyukuran juga memiliki hubungan erat dengan self-esteem, yang mempengaruhi cara individu memandang dirinya sendiri, berinteraksi dengan orang lain, dan menghadapi tantangan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran mediasi self-esteem dalam hubungan kebersyukuran dengan subjective well-being di kalangan siswa SMKN 1 Setia Janji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebersyukuran memiliki pengaruh positif terhadap subjective well-being, serta berperan penting dalam meningkatkan self-esteem. Self-esteem, pada gilirannya, juga berperan positif dalam meningkatkan subjective well-being. Hasil ini menunjukkan bahwa self-esteem berfungsi sebagai mediator yang memperkuat hubungan antara kebersyukuran dan subjective well-being. Oleh karena itu, kebersyukuran tidak hanya dapat meningkatkan subjective well-being, tetapi juga dapat memperkuat self-esteem, yang membantu remaja dalam menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik.
Copyrights © 2025