Fenomena cancel culture telah menjadi perbincangan yang memicu kontroversi karena dampaknya terhadap kebebasan berbicara dan hubungan sosial. Fenomena ini berfungsi sebagai sarana akuntabilitas sosial di mana masyarakat mengkritik individu yang dinilai melanggar norma atau etika publik. Di satu sisi, cancel culture memperkuat nilai kolektif dan memberikan platform bagi kelompok yang sebelumnya kurang didengar; namun, di sisi lain, ia menimbulkan dampak negatif seperti self-censorship, di mana individu cenderung menghindari menyuarakan opini yang berpotensi kontroversial karena takut mengalami pengucilan sosial. Untuk memahami dinamika kompleks ini, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis literatur dan studi kasus untuk mengeksplorasi dampak psikologis serta perilaku masyarakat dalam mengemukakan pendapat di bawah tekanan cancel culture. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cancel culture dapat memicu pola mob mentality, yang berpotensi merusak reputasi individu dan mempersempit ruang diskusi terutama pada isu-isu yang kontroversial. Selain itu, ditemukan bahwa respons terhadap cancel culture bervariasi berdasarkan latar belakang budaya dan pendidikan, sementara media berperan besar dalam memperkuat pengaruh fenomena ini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana cancel culture memengaruhi kebebasan berbicara dan interaksi sosial di masyarakat kontemporer.
Copyrights © 2024