Artikel ini menganalisis transformasi novel klasik Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka ke dalam adaptasi film tahun 2013 oleh Sunil Soraya, menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data utama penelitian berupa teks novel dan film yang dianalisis secara komparatif melalui metode kajian naratif dan karakterisasi. Fokus analisis ini mencakup perubahan alur cerita, karakterisasi tokoh, tema utama, dan elemen visual. Novel ini mengangkat tema cinta, adat, agama, dan kritik sosial terhadap sistem patriakal Minangkabau, sementara film lebih berfokus pada kisah cinta tragis Zainuddin dan Hayati dengan elemen visual yang dramatis. Analisis menunjukan bahwa alur cerita dalam film dipadatkan, dengan menghilangkan beberapa elemen mendalam seperti perjuangan spiritual Zainuddin dan kritiik terhadap adat. Karakterisasi juga disederhanakan, sehingga tokoh-tokoh seperti Zainuddin dan Hayati kehilangan kompleksitas mereka. Film menonjolkan aspek visual seperti budaya Minangkabau dan Adegan tenggelamnya kapal sebagai daya tarik utama, tetapi hal ini mengorbankan pesan moral dan refleksi filosofis yang kaya dalam novel. Meskipun adaptasi ini berhasil mempopulerkan karya klasik untuk audiens modern, ia tidak sepenuhnya mampu menangkap kedalaman dan kompleksitas tema dalam novel.
Copyrights © 2024