Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi internalisasi kesadaran kritis siswa melalui pembelajaran Sejarah Peradaban Islam (SPI) dalam merespons fenomena intoleransi di kalangan remaja. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kegelisahan akan rendahnya refleksi sosial siswa terhadap isu keberagaman, padahal SPI memiliki potensi sebagai medium transformasi sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan teori pedagogi kritis Paulo Freire, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan focus group discussion terhadap lima informan di MTs Wali Songo Sukajadi, Lampung Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran SPI secara signifikan mendorong siswa untuk memahami nilai-nilai toleransi dari tokoh dan peristiwa Islam klasik, merefleksikan relevansinya terhadap situasi sosial kontemporer, serta menghadirkan ruang praksis untuk membentuk sikap inklusif. Namun, tantangan tetap muncul dalam hal konsistensi penerapan nilai tersebut dalam lingkungan nyata siswa. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan interdisipliner yang menggabungkan pendidikan sejarah, teori kesadaran kritis, dan studi keislaman dalam konteks pendidikan madrasah tingkat menengah, serta penekanan pada SPI sebagai sarana pembentukan kesadaran sosial, bukan sekadar instrumen transfer pengetahuan historis.
Copyrights © 2024