Persentuhan Oey Tjeng Hien (Karim Oey) dengan Muhammadiyah dimulai setelah ia menjadi seorang muslim. Ketika itu ia baru saja merantau ke Bintuhan (wilayah selatan Provinsi Bengkulu) sekitar tahun 1926. Pada tahun tersebut sedang hangatnya gerakan pembaharuan Islam yang dibawa oleh para pelajar tamatan Mu’allimin Muhammadiyah Bengkulu, Thawalib Padang Panjang dan juga pelajar alumni Al-Azhar, Mesir. Namun pemahaman agama yang baru ini belum dapat dikemukakan kepada khalayak pada saat itu, disebabkan masyarakat yang masih menjalankan paham tradisional yang kuat, yang dapat mengakibatkan nantinya terjadi perselisihan. Perkenalan Karim Oey dengan Islam terjadi ketika ia memulai bisnis di Bintuhan, ia dekat dengan para tokoh Islam disana, salah satunya ialah Fikir Daud yang merupakan alumni Al-Azhar. Nampaknya pemikiran Fikir Daud inilah yang memengaruhi Oey untuk lebih memahami Islam. Secara privat, Oey benar-benar belajar Islam dengan Fikir Daud, sehingga tahun itu juga Oey menyatakan dirinya sebagai Muallaf, dimana saat itu merupakan sesuatu yang jarang dilakukan oleh masyarakat etnis Tionghoa. Lalu mucul pertanyaan, mengapa Karim Oey memeluk Islam ketika sudah berada di Bengkulu, padahal ia sendiri lahir di Padang Panjang, yang merupakan salah satu basis para Ulama-ulama Sumatera Barat. Karim Oey menjadi Muallaf di usia yang masih sangat muda, yakni 21 tahun. Namun kontribusi beliau dalam kegiatan-kegiatan keagamaan sangat besar, terbukti pada tahun 1929, ia di amanahkan menjadi Ketua Muhammadiyah Bintuhan yang merupakan cabang kedua Muhammadiyah di Bengkulu.
Copyrights © 2023