Artikel ini membahas fenomena pergeseran budaya antara masyarakat Madura dan Tuban yang timbul akibat polemik mengenai alat musik tradisional Daul dan Tongklek. Konflik ini terjadi di dalam konteks digital, yaitu pada ruang media sosial, yang kini menjadi tempat baru dalam hal pencitraan dan perundingan serta negosiasi identitas budaya. Menggunakan kerangka komunikasi lintas budaya serta literasi digital dan kritis, penelitian ini mengkaji bagaimana identitas budaya dimediasi oleh platform digital dan opini publik di dunia maya. Identitas budaya tidak lagi ada dalam ruang fisik yang stabil, melainkan secara dinamis direpresentasikan secara virtual dalam ruang yang terbuka dan seringkali tidak stabil. Proses digitalisasi budaya menghasilkan ketegangan simbolis karena batas-batas identitas budaya bersifat cair dan dapat diperebutkan secara aktif. Dalam konteks ini, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk komunikasi, melainkan sebagai arena untuk perjuangan atas makna dan klaim budaya. Artikel ini melampaui penjelasan tentang konflik budaya dengan melihat etika komunikasi, politik representasi simbol, dan kekuasaan di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi terhadap pemahaman isu-isu komunikasi lintas budaya dalam konteks era digital, terutama konflik identitas yang beragam secara lokal dan global.
Copyrights © 2025