Pola komunikasi dalam hubungan pernikahan Gen Z di Kota Blitar seringkali menunjukkan gejala toxic relationship yang mengancam keharmonisan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk menganalisis secara mendalam pola-pola komunikasi destruktif yang terjadi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi edukatif tentang komunikasi asertif dan resolusi konflik sangat krusial untuk membantu pasangan Gen Z membangun hubungan yang lebih sehat dan tahan lama.Pola komunikasi interpersonal toxic relationship dalam pernikahan pasangan Gen Z di Kota Blitar dikaji dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam pada informan yang dipilih secara purposive sampling. Analisis menggunakan teori komunikasi interpersonal Devito (1997) yang menekankan keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif, dan kesetaraan. Hasil menunjukkan empat indikator utama toxic relationship, yaitu dominasi, pengabaian emosional, manipulasi emosional, dan kecemburuan berlebihan. Dominasi terlihat pada pengambilan keputusan sepihak dan pengendalian kebebasan, pengabaian emosional melalui kurangnya perhatian dan respon negatif, manipulasi emosional dengan playing victim, pasif-agresif, serta pemaksaan, sedangkan kecemburuan berlebihan ditunjukkan lewat kecurigaan, posesif, dan ancaman. Keseluruhan pola ini bertentangan dengan prinsip komunikasi efektif menurut Devito, sehingga pasangan cenderung diam, menghindari diskusi, menjauh secara emosional, dan berisiko mengalami konflik berkepanjangan hingga keretakan rumah tangga.
Copyrights © 2025