Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan upaya disensus dalam politik para penulis terhadap konflik pembangunan pertambangan di Kecamaan Lambu Kabupaten Bima, dalam antologi puisi Bima Membara. Upaya disensus dalam politik diuraikan menggunakan teori disensus Jacques Rancière dengan pendekatan pragmatik dan kualitatif sebagai metode penelitiannya. Dalam hal ini, politik diartikan sebagai praktik tatanan sensori alamiah yang menjejer individu-individu dan kelompok untuk menempati posisi sebagai yang memerintah dan diperintah. Kelompok itu tergambarkan dari aparat pemerintah, penguasa dan masyarakat. Hasil penelitian menemukan bahwa para penulis melalui puisi-puisinya, merespon konflik yang terjadi di Bima. Para penulis secara gamblang menyuarakan dan mengecam atas tindakan represif yang dilakukan aparat Kepolisan dan Brimob pada 24 Desember 2011. Kurangnya respon pemerintah terhadap tuntutan massa, yakni untuk mencabut SK 188, sebagai surat izin pembangunan pertambangan. Tuntutan yang tidak diindahkan, kemarahan atas ditahannya rekan seperjuangan, insiden di Pelabuhan Sape yang melukai sebagian besar aksi massa dan menewaskan dua orang. Pada puncaknya, masyarakat membakar kantor kabupaten Bima pada 26 Januari 2012. Kejadian-kejadian tersebut, kemudian secara eksplisit dituangkan dalam antologi puisi Bima Membara.
Copyrights © 2025