Studi ini menelusuri bagaimana platform media sosial X (dahulu dikenal sebagai Twitter) berperan dalam memperkuat perbedaan pandangan publik selama Pemilihan Presiden Brazil tahun 2022. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan landasan paradigma konstruktivisme, penelitian ini mengaplikasikan teori framing untuk menelaah bagaimana kedua kubu utama, yakni Jair Bolsonaro dan Luiz Inácio Lula da Silva, membentuk serta menyebarkan narasi politik melalui media sosial. Temuan menunjukkan bahwa fitur seperti retweet, hashtag, dan trending topic dimanfaatkan secara terencana untuk membingkai lawan politik secara negatif. Teknik framing menjadi alat dalam membentuk identitas kelompok, memunculkan respons emosional dari pendukung, serta memengaruhi opini publik dengan memanfaatkan meme, video singkat, dan narasi-narasi ideologis yang bersifat polarisatif. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa X tidak sekadar berfungsi sebagai sarana komunikasi politik, tetapi telah menjadi ruang konflik naratif yang memperdalam jurang perbedaan sosial dan politik di masyarakat Brazil.
Copyrights © 2025