Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna hidup yang dialami oleh penghayat kejawen yang berperan sebagai juru kunci di Gunung Srandil, Cilacap. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan teori Bastaman (1996) yang melibatkan enam aspek: pemahaman diri, makna hidup, perubahan sikap, komitmen diri, kegiatan terarah, dan dukungan sosial. Subjek penelitian adalah enam individu yang terdiri dari tiga juru kunci dan tiga significant others yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Temuan penelitian menunjukkan bahwa makna hidup bagi para juru kunci berakar pada kepercayaan terhadap leluhur, yang diwariskan secara turun-temurun. Agama hanya dianggap sebagai identitas, sedangkan budaya Kejawen tetap menjadi panduan spiritual utama. Meskipun menghadapi stigma sosial, kurangnya penghargaan materi, dan kecemburuan sosial antar juru kunci, mereka tetap bangga menjalankan tugas mereka sebagai bentuk pengabdian. Penelitian ini mengilustrasikan bagaimana makna hidup dapat ditemukan melalui pemahaman diri, aktivitas bermakna, dan dukungan sosial, yang semuanya berkontribusi pada keberlanjutan tradisi kejawen.
Copyrights © 2025