Mengatasi kemiskinan di Indonesia adalah agenda vital pembangunan nasional yang menuntut kebijakan fiskal yang efektif, terutama dalam mengelola utang dan kualitas belanja. Penelitian ini bertujuan menganalisis seberapa besar pengaruh dua kekuatan fiskal yang berlawanan Beban Layanan Utang (BLU) sebagai penekan anggaran, dan Efektivitas Belanja Modal (EBM) sebagai motor investasi terhadap laju penurunan kemiskinan antara tahun 2013 hingga 2023. Kami berasumsi bahwa BLU akan menghambat upaya ini karena memicu crowding-out effect, sedangkan EBM justru akan mempercepat pertumbuhan yang inklusif. Untuk menguji hipotesis ini, kami menggunakan metode kuantitatif eksplanatif dengan mengolah data panel dari 34 provinsi selama 11 tahun, menghasilkan 374 data pengamatan yang kemudian dianalisis menggunakan Regresi Data Panel (melalui Uji-t dan Uji-F). Hasil analisis membuktikan bahwa BLU memang memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap percepatan penurunan kemiskinan. Kondisi ini muncul karena kewajiban pembayaran utang yang besar memaksa pengetatan anggaran, sehingga mendesak alokasi dana untuk Belanja Modal dan Bantuan Sosial menjadi berkurang. Sebaliknya, EBM terbukti berperan positif dan kuat sebagai katalis utama. Efektivitas belanja ini memastikan investasi infrastruktur mampu menciptakan multiplier effect ekonomi di daerah dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara optimal. Meskipun Indonesia berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 11,37% (Maret 2013) menjadi 9,36% (Maret 2023), temuan ini menekankan pentingnya menyeimbangkan tanggung jawab utang dengan peningkatan kualitas belanja produktif. Kami menyarankan kebijakan fiskal yang lebih strategis, berfokus pada EBM, untuk mencapai percepatan penurunan kemiskinan yang berkelanjutan.
Copyrights © 2025