Saat ini fiat money, interest rate, dan fractional reserve banking system telah digunakan sebagai instrumen utama dalam sistem moneter di seluruh dunia. Namun, sejumlah pakar melihat bahwa ketiga alat tersebut adalah akar dari rentannya sistem ekonomi secara keseluruhan, sehingga begitu banyak krisis terjadi dan terjadi lagi, dan terjadi ketidakseimbangan yang besar antara sektor moneter dan sektor riil dalam abad-abad terakhir ini. Di sisi lain, sistem moneter syariah menawarkan instrumen yang lebih adil dan wajar, yaitu real money, profit and loss sharing, dan full reserve banking system, karena dapat menjembatani sektor moneter dan sektor riil secara sempurna. Tulisan ini bertujuan melihat perbandingan efek dari instrumen moneter syariah dan konvensional ke arah pertumbuhan sektor riil, dengan mengambil studi kasus Indonesia dari Januari 2004 sampai Desember 2010. Industrial Production Index (IPI) digunakan sebagaiproksi pertumbuhan sektor riil. Exchange rate (ER), working capital interest rate (R_WK), dan quasi money (QM) digunakan untuk merepresentasikan instrumen moneter konvensional. Sebaliknya, gold price index (GOLD), mudharabah investment deposits rate (R_MID), dan base money (M0) adalah representasi dari instrumen moneter syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen moneter syariah lebih stabil daripada instrumen moneter konvensional dalam merespon shock of exogenous variables.
Copyrights © 2012