Secara nasional, prevalensi anemia pada remaja putri masih tinggi. Data penelitian tahun 2025 menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri bervariasi antar daerah dan kelompok usia. Prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia dengan umur 5 sampai 14 tahun sebesar 26,4% dan 18,4% pada umur 15-24 tahun. Remaja putri berisiko lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan remaja laki-laki karena perempuan mengalami menstruasi setiap bulan sehingga banyak kehilangan zat besi. Pada remaja sebagian besar kasus anemia gizi disebabkan oleh defisiensi zat besi, defisiensi vitamin A, vitamin C, asam folat, vitamin B12, atau karena kekurangan zat gizi secara umum. Anemia pada remaja putri menjadi berbahaya apabila tidak ditangani dengan baik, terutama untuk persiapan hamil dan melahirkan. SMPN 3 Batang Kapas merupakan salah satu SMPN yang berada di kabupaten Pesisir Selatan. Siswa di SMPN 3 Batang Kapas di dominasi oleh siswa perempuan dibanding laki- laki. Pemeriksaan status gizi dan kadar haemoglobin (HB) pada remaja putri dilakukan dengan tujuan agar terdeteksi remaja putri yang mengalami anemia dan status gizi kurang sehingga bisa segera diberikan penanganan lebih lanjut. Metode pelaksanaan kegiatan yaitu dengan melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan sehingga dapat diketahui indeks masa tubuh (IMT) dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan kadar HB. Setelah dilakukan pemeriksaan kemudian remaja putri di berikan edukasi dan rekomendasi sesuai hasil pemeriksaan yang didapatkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan status gizi didapatkan 44,2% remaja putri dengan berat badan kurang berdasarkan IMT, 16,7% kelebihan berat badan dan 1,3% obesitas. Dari pemeriksaan kadar HB diketahui 27,5% remaja putri dengan anemia.Kata Kunci: Status Gizi, kadar haemoglobin, remaja putri
Copyrights © 2025