Pembelajaran yang memperkenalkan konsep angka semenjak usia dini memiliki peranan yang cukup esensial. Sebab itulah, dibutuhkan media permainan yang mampu memberi bantauan kepada anak memahami angka secara lebih menyenangkan. Salah satu bentuk permainan yang relevan adalah labirin (maze), yakni jaringan jalur berliku dan bercabang yang umumnya digunakan sebagai hiburan. Dalam penelitian ini, maze dimodifikasi menjadi permainan edukatif berbasis monopoli culture. Studi dilaksanakan dengan memakai metode eksperimen melalui rancangan one-group pretest-posttest design, yakni dengan memberi pretest sebelum perlakuan serta posttest sesudah perlakuan. Hasil analisis menunjukkan bahwasanya sebelum perlakuan, rata-rata capaian kognitif anak umur 5–6 tahun di TK Negeri Pembina 3 Kota Pekanbaru hanya 120 dari skor ideal 300 (40,00%), yang masuk klasifikasi belum berkembang (BB). Setelah diberi perlakuan melalui permainan maze monopoli culture, skor meningkat menjadi 256 dari 300 (85,33%), sehingga kemampuan anak ada pada klasifikasi berkembang sesuai dengan harapan (BSH).
Copyrights © 2025