Arsitektur Jengki merepresentasikan pergeseran kesadaran pasca-kolonial Indonesia dari ruang yang diatur oleh moralitas kolonial menuju ruang yang merefleksikan kebebasan visual dan eksperimentasi identitas bangsa muda. Melalui pembacaan bentuk atap miring, fasad asimetris, ventilasi geometris, dan komposisi material tropis. Jengki menegaskan diri sebagai arsitektur hibrid yang lahir dari tegangan antara peniruan modernisme Amerika dan upaya membebaskan diri dari warisan ruang kolonial yang simetris dan hierarkis. Ekspresi estetis ini mengungkap lapisan ideologis yang lebih dalam: Jengki menjadi arena negosiasi identitas, tempat bangsa muda berusaha menjadi modern tanpa sepenuhnya menjadi Barat. Dalam konteks genealogi arsitektur Indonesia, Jengki merupakan “titik belok” yang menunjukkan bagaimana subjek pasca-kolonial menegosiasikan trauma, aspirasi, dan ingatan sehingga arsitektur tidak hanya tampil sebagai produk material, tetapi sebagai cermin kesadaran politiko-kultural yang menandai fase awal pencarian jati diri Indonesia modern.
Copyrights © 2025