Tulisan ini mengusung perspektif dialog dan negosiasi tentang Islam dan budaya di Aceh. Sepuluh tahun setelah pembangunan di Aceh diasumsikan bahwa konteks tsunami bagi pembangunan Aceh telah memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat, termasuk kompleksitas masalah khaos yang terus menerus direproduksi dan menjadi beban sejarah pasca bencana. pembangunan masyarakat Aceh. Beberapa hal penting yang dibahas dalam makalah ini adalah membuka dan mereproduksi “ruang publik” yang diharapkan dapat membangun narasi keterbukaan, egalitarianisme, inklusivitas Islam dari berbagai kelompok keberagaman. Makalah ini ditulis dengan pendekatan etnografi dengan penekanan pada metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa munculnya kebangkitan Islam di Aceh bukan hanya gejala benturan tajam budaya lokal dan global, tetapi juga merupakan bagian dari praktik sosial yang muncul akibat terbatasnya “ruang publik” yang diciptakan. Melalui tekanan budaya global yang masif pasca konflik dan tsunami, telah pula diwarnai pergeseran nilai-nilai di berbagai tingkatan, mulai dari gaya hidup, mentalitas, bahkan pada tataran pandangan dunia masyarakat Aceh. Oleh karena itu, bagaimana sebuah “ruang publik” yang dapat menampung berbagai kepentingan yang muncul, berdialog, bahkan menegosiasikan persimpangan kekacauan ini tercipta dan dikelola di era pasca pembangunan saat ini
Copyrights © 2020