Artikel ini membahas integrasi filsafat pendidikan dengan delapan dimensi profil lulusan sebagai upaya strategis dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045. Filsafat pendidikan dipahami sebagai dasar konseptual yang memberikan arah, nilai, dan tujuan bagi praktik pendidikan, sebagaimana dipaparkan oleh tokoh-tokoh seperti John Dewey, Ki Hajar Dewantara, dan Al-Syaibani. Sementara itu, delapan dimensi profil lulusan—keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, berakhlak mulia, peduli lingkungan, dan komunikasi—menjadi kerangka karakter dan kompetensi yang perlu ditanamkan kepada peserta didik. Melalui kajian literatur dengan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian ini menemukan bahwa setiap dimensi profil lulusan memiliki titik temu dengan prinsip-prinsip filsafat pendidikan, mulai dari etika, humanisme, hingga konstruktivisme. Integrasi keduanya dapat diwujudkan melalui penguatan kurikulum berbasis nilai, pembelajaran berbasis proyek, kegiatan kokurikuler, serta peran guru sebagai philosophical practitioner. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendidikan yang terintegrasi dengan nilai-nilai filosofis mampu memperkuat karakter, kecerdasan moral, dan kompetensi abad ke-21 peserta didik. Dengan demikian, integrasi filsafat pendidikan dan delapan dimensi profil lulusan merupakan langkah penting untuk membentuk sumber daya manusia yang berdaya saing, berkarakter Pancasila, serta siap menghadapi tantangan global menuju Generasi Emas 2045.
Copyrights © 2025