Kebutuhan akan angkutan umum berbasis rel berdampak luas terhadap pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan KRL Commuter Line dan MRT Jakarta dari dua aspek Kemampuan Membayar dan Kesediaan Membayar. Analisis ini dilakukan dengan pendekatan studi literatur deskriptif-komparatif. Jurnal, prosiding, tesis, dan dokumen kebijakan yang digunakan sebagai sumber sekunder melalui analisis konten. KRL dengan tarif dasar sebesar Rp. 3.000,- mendapatkan ATP Rp. 3.770,- – Rp. 4.825,- dan WTP Rp. 3.974,- – Rp. 5.057,-, yang berarti KRL berpotensi untuk perubahan tarif sebesar Rp. 770,-. MRT Jakarta untuk tarif sebesar Rp. 14.000,- untuk fase 2A, ATP menunjukkan daya beli Rp. 17.044,- dan WTP Rp. 19.000,-. Pola penumpang terikat muncul dan sangat bergantung, di sisi ujung, dengan WTP yang tinggi dan ATP yang rendah, untuk kedua moda, menandakan MRT dan KRL sangat efisien dan nyaman. Penelitian ini berpendapat agar penyesuaian tarif dilakukan dan untuk jangka panjang, tarif perlu diikuti dengan peningkatan mutu pelayanan dengan penyesuaian yang progresif dan sesuai dengan penghasilan bagi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah, agar mutu pelayanan tidak berkualitas rendah.
Copyrights © 2025