Kelas yang inklusif mendesak guru untuk memiliki kepemimpinan yang mampu mencipatakan suasana belajar yang harmonis ditengah keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran kepemimpinan guru dalam menjaga kerukunan antara siswa berkebutuhan khusus (ABK) dan siswa reguler di kelas inklusif di SDN Benua Anyar 8 Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan guru kelas V siswa ABK, dan siswa reguler sebagai unit analisis. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi non-partisipatif, dan studi dokumen, kemudian dianalisis menggunakan analisi tematik Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan gaya kepemimpinan adaptif dan transformasional dalam mengelola dinamika kelas inklusif. Akibatnya, interaksi sosial antara siswa berkebutuhan khusus dan siswa reguler berjalan harmonis. siswa reguler menunjukkan rasa hormat, sementara siswa berkebutuhan khusus merasa diterima dan percaya diri. Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan guru yang efektif merupakan faktor kunci dalam menjaga harmoni sosial di kelas inklusif. Studi ini menunjukkan pentingnya melatih guru dalam kepemimpinan sosial dan komunikasi empati, serta memperkuat kolaborasi antara guru, guru pendamping khusus (GPK), dan orang tua dalam menciptakan budaya sekolah yang inklusif, harmonis, dan adil
Copyrights © 2025