Indonesia merupakan negara multikultural yang menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas sosial dan persatuan bangsa. Oleh karena itu, penguatan nilai moderasi beragama di lembaga pendidikan menjadi krusial. SMA Pu Hua School, dengan keunikan keragaman enam agama dan filosofi “有教无类 (Yochiawule)”—pendidikan tanpa perbedaan—merupakan studi kasus ideal untuk meneliti efektivitas internalisasi nilai moderasi Kemenag melalui pembelajaran PAI berbasis multikultural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model proses internalisasi, strategi pembelajaran PAI, dan implikasi nilai moderasi beragama berbasis pendidikan multikultural di SMA Pu Hua School Purwokerto. Penelitian kualitatif-deskriptif ini menggunakan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validitas data diuji menggunakan teknik triangulasi sumber dan dokumen. Internalisasi berhasil melalui Model Simbiosis Dua Jalur. Jalur Kultural (budaya sekolah) berfungsi sebagai Empowering School Culture (Banks) yang menciptakan habituasi keragaman, mendorong siswa mencapai tahap Receiving–Responding Krathwohl. Jalur Kurikuler (PAI) memberikan legitimasi teologis dan pemaknaan melalui penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan strategi Ekspositori Interaktif, Diskusi Klasikal, dan Refleksi Nilai, memperkuat Valuing–Organization Krathwohl. Implikasinya, proses internalisasi mencapai tingkat tertinggi Characterization (A5 Krathwohl), terwujud dalam empat indikator moderasi Kemenag.
Copyrights © 2025